urang sunda asli

urang sunda asli

Rabu, 28 November 2012

Kawih dan Kakawihan Sunda

Hai lagi sobat, di kesempatan kali ini kita akan membahas keanekaragaman Tanah Sunda yang lainnya, yaitu tentang Kawih Sunda. Kawih Sunda sering kita dengar karena masyarakat Sunda dari berbagai kalangan sering sekali menyanyikan dan melantunkan Kawih Sunda. Mari kita bahas tentang kawih Sunda.

Kawih yaitu bagian dari khasanah seni Sunda yang dibentuk oleh dua unsur yaitu unsur seni dan sastra. Yang digunakan dalam kawih yaitu tangga nada pentatonis, yang patokanya berdasarkan: Da-mi-na-ti-la-da

Dua unsur yang membentuk kawih:

1. Seni Musik = sebagai pengiring
2. Seni Sastra = Syair/ rumpaka lagu

Dalam kesenian Sunda antara kawih dan tembang tidak jauh berbeda, letak perbedaannya adalah apabila kawih terikat oleh ketukan sedangkan tembang (seperti pada tembang Cianjuran) tidak terikat oleh ketukan.
Syair permainan anak zaman dulu ini begitu dikenal oleh anak-anak Sunda di segala zaman. Begitu dikenal dan sangat terkenal. Bahkan karena begitu terkenalnya hingga anak-anak di luar kultur dan rumpun berbahasa Sunda pun akan dengan senang hati menyanyikan lagu ini.
Pamirigna biasana rebab, kendang, gamelan, goong jeung sajabana, saperti dina kiliningan. Sawaréhna aya ogé anu dipirig ku kacapi jeung suling.
Lagu-lagu klasik saperti Buah Kawung, Sorban Palid, Daun Pulus, Banondari jeung séjén-séjénna, éta kaasup kawih. Tukang ngawihna disebut Juru Kawih atawa Sindén.
Kawih Sunda dimiliki serta disukai masyarakat Sunda, Kawih Sunda harus jadi pribumi di tempat lahirnya, dimiliki masyarakat  Sunda dimana saja berada, menjadi tameng pengaruh budaya asing yang tidak bermanfaat serta tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat  Sunda


Kakawihan 
 
Kakawihan barudak atau kawih murangkalih, yaitu sebangsa kawih yang biasa dilantunkan oleh anak kecil, baik itu didalam rumah maupun diluar rumah.diibaratkan di taman saat terang bulan, atau ditempat lainnya tempat mereka sedang bermain..
Dahulu anak-anak Sunda, apalagi yang ada di Kota,Kayaknya sudah langka dan jarang untuk bermain kakawihan Supaya tidak kehilangan dan supaya anak-anak mengenalnya, di setiap daerah itu biasanya tidak akan sama, pasti akan ada saja bedanya sedikit, dan disini akan di buka contoh mengenai kakawihan anak kecil berupa semua lagu-lagu yang anonym

Cing cangkeling

Kawih untuk menghitung sebelum bermain kucing-kucingan. sebelum bermain, akan dinyanyikan oleh seorang anak. Beginilah kawihnya:

Cing cangkeling
Manuk cingkleng cindeten
Plos ka olong
Bapa Satar buleneng

Cing Ciripit

Kawih untuk menghitung sebelum bermain kucing-kucingan. Beginilah kawihnya:

Cing ciripit
Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu pare
Bulu pare seuseukeutna
Salian rakitan anu diluhur, cing ciripit the aya nu rakitanana kieu:
Cing cirripit
Gulali lobang
Saha nu kacapit
Tunggu lawang

Cok Cang (Cokcangan)

Kawih untuk menghitung sebelum bermain kucing-kucingan. Beginilah kawihnya:

Cok cang si pendek si kacang
Si niti anggolati
Si togog montok

Kawih lainnya:

Cok cang si pendek si kacang
Si niti anggolati
Dog clo
Bo lo nyon
Atau : Cok cang si pendek si kacang
Si niti anggolati
Lameta dening si togog
Montok!

Itulah semua penjelasan mengenai Kawih dan Kakawihan Sunda, mudah-mudahan bermanfaat yah, tunggu aja lagi tentang keaneka ragaman mengenai Tanah Sunda, tunggu aja yah.

Selasa, 27 November 2012

Musik Sunda

Sekarang kita tinggalin dulu deh tentang objek wisata di Tanah Sunda, sekarang mari kita mengenal tentang sejarah musik sunda (musik kontemporer) berikut juga contoh lagu Sunda yang populer di masyarakat Jawa Barat.
Musik pop Sunda merupakan representasi dari kreativitas musisi Sunda. Genre musik ini tidak bisa melepaskan diri dari jasa Koko Koswara (alm) yang lebih populer dengan julukan Mang KokoSecara historis, menurut Edwin Juriens (2006), kelahiran musik pop Sunda dibidani seniman Bandung Nada Kantjana pada tahun 1950-an. Mereka adalah pelopor pengombinasian lirik Sunda dengan instrumen-instrumen musik pop Barat di bawah pimpinan Muhammad Yassin. Setelah itu, tongkat estafet penciptaan musik pop Sunda diteruskan Djuhari dan Mang Koko.

Sekarang, dengan perkembangan zaman yang terjadi, lahir musisi muda independen yang mengawinkan nada-nada Sunda dengan nada rock, pop, hip hop, rap, dan sebagainya. Mengamati perkembangan musik kontemporer di daerah sendiri tampaknya agak menyedihkan. Selain apresiasi masyarakat Sunda belum begitu memadai, para komponisnya yang relatif sangat sedikit, juga dukungan pemerintah setempat atau sponsor-sponsor lain untuk  penyelenggaraan konser-konser musik kontemporer sangat kurang. Sebenarnya banyak  komponis kontemporer di daerah Sunda yang cukup potensial, akan tetapi sangat sedikit yang konsisten. Salah satu komponis pertama yang perlu disebut adalah Nano S. Meskipun aktifitasnya lebih cenderung sebagai pencipta lagu, akan tetapi beberapa karyanya seperti karya “Sangkuriang” atau “Warna” memberi nafas baru dalam pengembangan musik Sunda. Komponis lain seperti Suhendi Afrianto, Ismet Ruhimat sangat nyata upayanya dalam pengembangan instrumentasi pada gamelan Sunda. Dodong Kodir yang cukup konsisten dalam upaya mengembangkan aspek organologi dalam komposisinya, Ade Rudiana yang sukses dalam pengembangan dibidang komposisi musik perkusi, Lili Suparli yang memegang prinsip kuat dalam pengolahan idiom-idiom musik tradisi  Sunda, serta tak kalah penting komponis-komponis seperti Dedy Satya Hadianda, Dody Satya Eka Gustdiman, Oya Yukarya, Dedy Hernawan, Ayo Sutarma yang karya-karyanya cukup variatif dan memiliki orsinalitas dilihat dari aspek kompositorisnya. (posisi penulis sebagai komponis juga memiliki ideologi yang kurang lebih sama dengan para komponis yang terakhir disebutkan). Dari beberapa komponis Sunda seperti yang telah disebutkan di atas, secara kompositoris karakteristik karyanya dapat dipetakan menjadi tiga kategori. Pertama adalah karya musik yang bersifat “musik iringan”. Konsep komposisi dalam karya seperti ini berdasar pada penciptaan suatu melodi (bentuk lagu/intrumental), kemudian elemen-elemen lainnya berfungsi mengiringi melodi tersebut. Kedua adalah karya musik yang bersifat “illustratif”. Konsep komposisinya berusaha menggambarkan sesuatu dari naskah cerita, puisi dan lain-lain. Dengan demikian orientasi musiknya lebih tertuju pada penciptaan suasana-suasana yang berdasar pada interpretasi komponisnya. Ketiga adalah karya musik yang bersifat otonom. Karya musik seperti ini biasanya sangat sulit dipahami oleh orang awam. Selain bentuknya yang tidak baku, aspek gramatika musiknya pun sangat berbeda jika dibandingkan dengan karya-karya tradisi. Kadang-kadang karya-karya musik seperti ini sering menimbulkan hal yang kontroversial. Seperti yang “anti tradisi”, padahal secara sadar atau tidak, semua tatanan konsepnya bersumber dari tradisi.
Berikut contoh lagu sunda, tetapi sama dengan lagu bangsa Ukraina. Inilah asal usulnya.
Pernah mendengar lagu Panon Hideung? Lagu Panon Hideung (Mata Hitam) ciptaan Ismail Marzuki yang merupakan lagu rakyat Sunda dan sudah tidak asing lagi di telinga orang Sunda. Namun lagu tersebut bukan asli milik Indonesia, karena lagu asli nya berjudul Ochi Chernye (Dark Eyes) yang merupakan lagu rakyat Ukrania.
Bahkan lagu ini pernah diperdengarkan saat Presiden SBY menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Negara pada tanggal 6 September 2007 saat berkunjung ke Indonesia. Saat itu Presiden Putin bertanya bagaimana ceritanya lagu Rusia ini bisa masuk Indonesia, namun Presiden SBY menjawab tidak mengetahuinya.
Lalu bagaimana lagu ini masuk ke Indonesia dan bahkan di-adaptasi
lagu Sunda? Akhirnya jawaban itu didapatkan dengan keterangan yang meyebutkan
 “Tidak kurang uniknya adalah sejarah lagu yang dikenal Hallo-hallo Bandung ciptaan Ismail Marzuki. Karena mendapat tugas memimpin Studio Orkes NIROM II Bandung di Tegallega bersama Jan Snijders dengan sederetan penyanyi Miss Lee, Miss Netty, Miss Annie Landauw, Miss Nining dan juga Miss Eulis, komponis Betawi itu jatuh cinta pada yang disebut terakhir, yang dinikahinya sekitar tahun 1940 dan diberi nama Eulis Zouraida, mojang Priangan berdarah Sunda-Arab. Selagi pacaran diciptakan lagu Als de Orchiedeen Bloeien dan Panon Hideung, sebuah lagu Rusia dengan syair Sunda. Memang Eulis Bandung itu bermata hitam (Black Eyes), hidung mancung, kulit kuning seperti liriknya dalam bahasa Sunda”.
Walaupun begitu, lagu-lagu Sunda tetap harus dilestarikan. Karena bila salah satu ciri dari negara atau daerah setempat hilang, maka tidak ada lagi ciri khas dari negara atau daerah tersebut. Lagu-lagu Sunda juga enak untuk didengarkan, jadi? Apa salahnya kita coba untuk melestarikan salah satu budaya Sunda ini,

Gunung Tangkuban Parahu


Sesuai dengan janji ane yang lalu, ane bakal nyoba posting lagi tentang objek wisata bersejarah yang bisa kita datangi, apalagi waktu liburan. Kali ini ane mau posting kisah tentang Gunung Tangkuban Perahu.


Gunung Tangkuban Perahu terletak di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Gunung Tangkuban Perahu juga adalah salah satu gunung berapi yang terdapat di Jawa Barat. Sejarah mengatakan bahwa gunung ini pernah meletus pada tahun 1910 dengan kekuatan 2 Skala Richter. Akibat letusan itu terbentuklah banyak kawah yang sering mengeluarkan asap belerang ke dataran rendah yang berada di bawahnya.

Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.


Awal kisah setelah Dayang Sumbi memukul Sangkuriang karena telah membunuh si Tumang, anjing peliharaan sekaligus ayahnya  Dayang Sumbi sangat mengharapkan Sangkuriang akan pulang kembali. Iapun mulai bertapa dan memohon kepada Dewa, ia ingin tetap cantik dan selalu muda hingga nanti. Suatu ketika saat Sangkuriang kembali ia masih mengenali Dayang Sumbi sebagai ibunya. Dewapun mengabulkan do'a Dayang Sumbi, walaupun usianya sudah tidak muda lagi, Dayang Sumbi masih terlihat cantik. Hingga suatu ketika, Sangkuriang bertemu dengan Dayang Sumbi, namun ia sudah tidak mengenali Dayang Sumbi sebagai ibunya, bahkan jatuh hati kepada Dayang Sumbi. Begitupun Dayang Sumbi, ia tak tahu bahwa lelaki tampan itu adalah Sangkuriang, mereka menjalin kasih. Ceritapun berlanjut, suatu hari Dayang Sumbi tengah membelai kepala Sangkuriang, dari situlah ia menemukan bekas luka karena pukulan yang dilakukan pada Sangkuriang beberapa tahun yang lalu. Akhirnya Dayang Sumbi pun tahu bahwa ia adalah Sangkuriang anak kandungnya. Sangkuriang telah melamar Dayang Sumbi, hingga Dayang Sumbi bingung mencari cara agar pernikahan dengan Sangkuriang tak akan terjadi. Akhirnya, Dayang Sumbi mengajukan beberapa persyaratan yakni Sangkuriang harus mampu membuat danau dan perahu serta membendung sungai Citarum dalam waktu satu malam. Sangkuriang menyanggupi persyaratan ini, karena ia telah berguru dan menjadi remaja yang sakti mandraguna. Alhasil, Sangkuriang ternyata mampu memenuhi persyaratan yang diberikan Dayang Sumbi kepadanya. Saat semua pekerjaan hampir selesai, Dayang Sumbi bingung dan meminta petunjuk Dewa. Sang Dewa-pun memerintahkan agar Dayang Sumbi mengibaskan selendang yang dimilikinya dan secara ghaib matahari muncul di ufuk timur tanda pagi telah datang. Sangkuriang marah dan ia merasa gagal. Ia menendang perahu yang setengah jadi dengan sekuat tenaga dan terguling dalam keadaan tertelungkup hingga akhirnya muncul sebutan Tangkuban Parahu.

Menurut sejarah geologinya, Gunung Tangkuban Parahu terbentuk dari aktifitas letusan berulang Gunung Api Sunda di jaman prasejarah. Catatan letusan dalam 2 abad terakhir adalah tahun 1829, 1846, 1862, 1887, 1896, 1910, dan 1929.
Dari puncak menara Gedung Sate di Kota Bandung maupun tempat tinggi yang lainnya, Anda dapat melihat dengan jelas bentuk fisik Gunung Tangkuban Parahu yang benar-benar menyerupai perahu terbalik.
Udah dulu ahh, posting untuk sekarang beres, tunggu postingan yang lainnya yah.

Kampung Naga


Haii guys, untuk menepati janji lagi, selain menyebarkan post tentang Situ Bagendit dan Candi Cangkuang, sekarang saatnya untuk menjelaskan tentang objek wisata Kampung Naga, ayo kita ikuti serta pahami tentang Kampung Naga.


Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat. Kampung ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok. bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan dan kolam. Kampung Naga  dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Keunikan rumah-rumah Kampung Naga


Keunikan dari rumah-rumah di Kampung Naga adalah semuanya beratap ijuk, dan menghadap ke arah kiblat. Letaknya berjajar dari atas ke bawah, hingga dari jauh terlihat putih dan hitam yang bertumpuk bagaikan tanaman jamur yang tumbuh subur. Kesuburan dan kedamaian memang sangat terasa ketika kita mulai menuruni tangga menuju kampung tersebut. Sebanyak 360 tangga harus kita lalui untuk menuju Kampung Naga ini, turunannya cukup tajam, sehingga kalau hujan saat turun kita harus cukup berhati-hati kalau tidak mau terpeleset dan jatuh ke jurang-jurang yang ada dibawahnya. Ketika menuruni tangga, sejauh mata memandang adalah sawah teras siring yang menghijau, sungai jernih melintas dan melingkar dibawahnya, terasa damai sekali.

Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana. Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu. Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga. Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di Tasikmlaya Wisatawan biasanya memiliki minat khusus yaitu ingin mengetahui dan membuktikan secara nyata keadaan tesebut.
Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga yaitu eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga.

Disenangi oleh turis mancanegara

Ternyata selain masyarakat dari luar kota yang tertarik akan objek wisata Kampung Naga, Turis dari belahan mancanegara pun turut tertarik akan keindahan dan juga adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kampung Naga, tak tanggung-tanggung, budaya Kampung Naga bahkan sampai terdengar sampai ke Negara Jerman karena masyarakat yang menjunjung tinggi budaya dan juga leluhurnya. para turis yang berkunjung ke Kampung Naga pada umumnya ingin menikmati kehidupan adat tradisional yang serasi dengan keaslian alam di perbukitan dan hulu sungai. Tradisi adat bisa dilihat dari rumah adat Naga yang berbentuk rumah panggung berdinding bambu (seseg). Selama ini, sebagian besar rombongan wisatawan mancanegara yang datang ke Kampung Naga adalah turis dari Jerman. Hal ini terkait dengan minat perjalanan warga Jerman ke negara lain yang tercatat paling tinggi daripada negara Eropa lain.
 
Sekian dulu ah post tentang Kampung Naga, tapi cuma Kampung Naga aja sih yang dicukupkan dulu, kalau tentang objek wisata lainnya pasti kok akan ada lagi yang lainnya, jadi tunggu aja yah.